Tag Archives: migrasi perawat Indonesia

Penentu niat mahasiswa perawat untuk bermigrasi ke luar negeri untuk bekerja dan implikasinya bagi keberlanjutan: Kasus mahasiswa Indonesia (Determinants of nursing students’ intention to migrate overseas to work and implications for sustainability: The case of Indonesian students)

Sitasi: Efendi, F., Oda, H., Kurniati, A., Hadjo, S. S., Nadatien, I., & Ritonga, I. L. (2020). Determinants of nursing students’ intention to migrate overseas to work and implications for sustainability: The case of Indonesian students. Nursing & Health Sciences.

Tingkat kelulusan perawat yang tinggi dan kesempatan kerja yang terbatas di Indonesia dapat menyebabkan emigrasi perawat terutama melalui migrasi yang difasilitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi mahasiswa keperawatan Indonesia yang berniat bekerja di Jepang dan prediktor niat mereka untuk bermigrasi serta memiliki rencana pasti untuk bekerja di Jepang. Desain penelitian cross-sectional dengan sampel 1.407 mahasiswa keperawatan Indonesia. Faktor yang terkait dengan niat migrasi serta rencana pasti untuk bekerja di Jepang adalah usia, tempat tinggal, dan pengalaman di luar negeri. Faktor lain yang terkait dengan rencana pasti bekerja ke luar negeri adalah pendapatan keluarga, penguasaan bahasa asing, pengetahuan tentang migrasi perawat terkait kerjasama Indonesia-Jepang, dan motivasi mereka untuk bermigrasi ke Jepang. Keberlanjutan rekrutmen perawat internasional ini dimungkinkan dengan memahami konteks negara sumber dan tujuan. Memaksimalkan manfaat migrasi perawat untuk Indonesia dan Jepang memerlukan kebijakan terstruktur yang menargetkan sektor pendidikan dan menangani masalah keberlanjutan.

Perjalanan yang sulit dan menantang: pengalaman hidup para perawat Indonesia yang kembali (A deskilling and challenging journey: the lived experience of Indonesian nurse returnees)

Sitasi: Kurniati, A., Chen, C. M., Efendi, F., & Ogawa, R. (2017). A deskilling and challenging journey: the lived experience of Indonesian nurse returnees. International Nursing Review64(4), 494-501.

Tujuan: Untuk menjelaskan pengalaman hidup perawat Indonesia yang sebelumnya bekerja sebagai pengasuh di fasilitas perawatan residensial Jepang, dengan menelusuri perjalanan menjadi pengungsi yang kembali. Latar Belakang: Penciptaan perjanjian bilateral antara Indonesia dan Jepang telah memfasilitasi pergerakan perawat Indonesia untuk bekerja sebagai pengasuh di Jepang sejak tahun 2008. Keputusan ini menimbulkan kekhawatiran terkait dengan penurunan keterampilan keperawatan, namun sedikit yang diketahui tentang masalah ini dari perspektif perawat yang kembali dan bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi hidup mereka. Metode: Metode fenomenologi hermeneutik digunakan untuk penelitian ini. Sampel purposif dari 15 perawat Indonesia yang kembali berpartisipasi dalam penelitian ini. Wawancara semi terstruktur dilakukan di empat provinsi di Indonesia antara Agustus dan Oktober 2015. Data dianalisis secara tematik, didukung oleh perangkat lunak QSR NVIVO 10. Temuan: Empat tema utama muncul dari analisis data: (i) pulang; (ii) kembali ke nol; (iii) berjalan melalui perjalanan yang sulit; dan (iv) mengatasi hambatan. Temuan ini menggambarkan pengalaman hidup para perawat yang kembali ketika mereka kembali ke negara asal. Kesimpulan: Perawat Indonesia yang kembali mengalami deskilling dan berjuang untuk memasuki kembali profesi perawat atau untuk mencari pekerjaan non-perawat lainnya. Dampak signifikan dari migrasi ini pada perawat individu dalam hal memaksimalkan manfaat migrasi kembali perlu diselidiki lebih lanjut. Implikasi bagi kebijakan keperawatan dan kesehatan: Pemerintah Indonesia, bersama dengan pemangku kepentingan lainnya, harus mengembangkan strategi keuntungan otak untuk menyelaraskan keahlian GAM yang kembali dengan kebutuhan pasar tenaga kerja nasional. Kemitraan publik-swasta harus diperkuat untuk memanfaatkan GAM yang kembali dalam layanan kesehatan.