Research centre REACH

Perjalanan yang sulit dan menantang: pengalaman hidup para perawat Indonesia yang kembali (A deskilling and challenging journey: the lived experience of Indonesian nurse returnees)

Sitasi: Kurniati, A., Chen, C. M., Efendi, F., & Ogawa, R. (2017). A deskilling and challenging journey: the lived experience of Indonesian nurse returnees. International Nursing Review64(4), 494-501.

Tujuan: Untuk menjelaskan pengalaman hidup perawat Indonesia yang sebelumnya bekerja sebagai pengasuh di fasilitas perawatan residensial Jepang, dengan menelusuri perjalanan menjadi pengungsi yang kembali. Latar Belakang: Penciptaan perjanjian bilateral antara Indonesia dan Jepang telah memfasilitasi pergerakan perawat Indonesia untuk bekerja sebagai pengasuh di Jepang sejak tahun 2008. Keputusan ini menimbulkan kekhawatiran terkait dengan penurunan keterampilan keperawatan, namun sedikit yang diketahui tentang masalah ini dari perspektif perawat yang kembali dan bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi hidup mereka. Metode: Metode fenomenologi hermeneutik digunakan untuk penelitian ini. Sampel purposif dari 15 perawat Indonesia yang kembali berpartisipasi dalam penelitian ini. Wawancara semi terstruktur dilakukan di empat provinsi di Indonesia antara Agustus dan Oktober 2015. Data dianalisis secara tematik, didukung oleh perangkat lunak QSR NVIVO 10. Temuan: Empat tema utama muncul dari analisis data: (i) pulang; (ii) kembali ke nol; (iii) berjalan melalui perjalanan yang sulit; dan (iv) mengatasi hambatan. Temuan ini menggambarkan pengalaman hidup para perawat yang kembali ketika mereka kembali ke negara asal. Kesimpulan: Perawat Indonesia yang kembali mengalami deskilling dan berjuang untuk memasuki kembali profesi perawat atau untuk mencari pekerjaan non-perawat lainnya. Dampak signifikan dari migrasi ini pada perawat individu dalam hal memaksimalkan manfaat migrasi kembali perlu diselidiki lebih lanjut. Implikasi bagi kebijakan keperawatan dan kesehatan: Pemerintah Indonesia, bersama dengan pemangku kepentingan lainnya, harus mengembangkan strategi keuntungan otak untuk menyelaraskan keahlian GAM yang kembali dengan kebutuhan pasar tenaga kerja nasional. Kemitraan publik-swasta harus diperkuat untuk memanfaatkan GAM yang kembali dalam layanan kesehatan.

IJEPA: Wilayah Abu-abu untuk Kebijakan Kesehatan dan Migrasi Perawat Internasional (IJEPA: Gray Area for Health Policy and International Nurse Migration)

Sitasi: Efendi, F., Mackey, T. K., Huang, M. C., & Chen, C. M. (2017). IJEPA: Gray area for health policy and international nurse migration. Nursing Ethics24(3), 313-328.

Indonesia diakui sebagai negara pengekspor perawat, dengan kebijakan yang mendorong profesional perawat untuk pindah ke luar negeri. Ini termasuk penerapan prinsip-prinsip internasional yang berupaya melindungi perawat Indonesia yang beremigrasi serta partisipasi negara sendiri dalam perjanjian perdagangan dan investasi bilateral, yang dikenal sebagai Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang yang memfasilitasi migrasi perawat Indonesia ke Jepang. Terlepas dari potensi keuntungan perdagangan dan pekerjaan dari pengiriman perawat ke luar negeri berdasarkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang, Indonesia sendiri mengalami krisis dalam kapasitas perawat dan memastikan akses perawatan kesehatan yang memadai untuk penduduknya sendiri. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam menyeimbangkan dengan tepat kebutuhan tenaga kesehatan domestik, pekerjaan, dan peluang pelatihan bagi perawat Indonesia, dan kebutuhan untuk mengakui hak perawat untuk bebas bermigrasi ke luar negeri. Karenanya, artikel ini mengulas masalah operasional dan etika yang kompleks terkait dengan migrasi tenaga kesehatan Indonesia di bawah Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang. Ini juga memperkenalkan proposal kebijakan untuk meningkatkan kinerja Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang dan lebih menyelaraskannya dengan prinsip-prinsip internasional yang berfokus pada migrasi pekerja kesehatan yang adil. © 2015, © The Author (s) 2015.

Pengalaman hidup perawat Indonesia di Jepang: Sebuah studi fenomenologi (Lived experience of Indonesian nurses in Japan: A phenomenological study)

Sitasi: Efendi, F., Chen, C. M., Nursalam, N., Indarwati, R., & Ulfiana, E. (2016). Lived experience of Indonesian nurses in Japan: A phenomenological study. Japan Journal of Nursing Science13(2), 284-293.

Tujuan: Perpindahan perawat Indonesia melalui perjanjian bilateral dengan Jepang telah menyebabkan sejumlah besar migran bekerja sebagai perawat di sistem perawatan kesehatan negara tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang pengalaman bermakna perawat Indonesia selama bekerja di rumah sakit Jepang. Metode: Dalam studi fenomenologi ini, pengambilan sampel dilakukan secara purposif dan berdasarkan informasi yang dimiliki oleh lima perawat Indonesia. Data dikumpulkan melalui wawancara; analisisnya bersifat tematik. Hasil: Enam tema kunci diidentifikasi: (i) mencari yang lebih baik dari sebelumnya; (ii) tantangan komunikasi; (iii) pemeriksaan keperawatan sebagai puncaknya; (iv) perbedaan dalam praktik keperawatan; (v) perbedaan budaya; dan (vi) manfaat hidup di negara maju. Di antara tantangan ini, komunikasi sebagai dasar dari pengertian dan pemahaman bersama dipandang sebagai masalah yang kompleks, baik oleh pasien maupun rekan kerja. Kesimpulan: Hasil penelitian ini membutuhkan intervensi lebih lanjut dalam mendukung perawat Indonesia yang tinggal di Jepang dalam perjuangan mereka dengan masalah komunikasi. Penekanan pada penguasaan bahasa untuk tujuan pribadi dan profesional, dan juga menjembatani perbedaan budaya, harus dipertimbangkan dalam konteks internasional. © 2016 Akademi Ilmu Keperawatan Jepang.

× How can I help you?