Research centre REACH

Deteksi dini faktor risiko dan beratnya obstruksi jalan nafas melalui pengukuran nilai kritis FVC dan FEV1 pada terminal bus (Early detection of risk factors and severity of airway obstruction through measurement of critical values of FVC and FEV1 on bus terminalofficers)

Sitasi: Sudiro, S., Martono, M., Nursalam, N., & Efendi, F. (2019). Early Detection of Risk Factors and Severity of Airway Obstruction Through Measurement of Critical Values of FVC and FEV1 on Bus Terminal Officers. Indian Journal of Public Health Research & Development10(1), 642-646.

Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan sejauh mana nilai kritis FVC dan FEV1 mampu memprediksi faktor risiko beratnya obstruksi jalan napas pada petugas terminal bus di Solo Raya Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain survei deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah Petugas terminal bus di Solo Raya Indonesia yang bekerja di bidang lalu lintas, inspeksi kendaraan, dan parkir. Sampel terdiri dari 139 responden secara acak. Tingkat keparahan obstruksi jalan napas diukur melalui nilai kritis FVC dan FEV1 menggunakan Spirometri. Teknik analisis data penelitian menggunakan Uji Regresi Logistik dengan taraf signifikansi 95%. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi jenis kelamin pada sebagian besar laki-laki adalah 64,7%, kelompok umur 43-50 tahun 30,9%, masa kerja 21-30 tahun 38,8%, dan tingkat keparahan penyakit. obstruksi jalan nafas terbanyak pada kategori ringan sebesar 52,5%. Model pengukuran nilai kritis FVC dan FEV1 mampu memprediksi tingkat keseriusan obstruksi jalan nafas yang signifikan sebesar 80,7% dan petugas lalu lintas beresiko lebih tinggi terhadap gangguan jalan nafas secara signifikan sebesar 3,88 kali dibandingkan dengan mereka yang bekerja di tempat parkir, atau inspeksi kendaraan. ditunjukkan dengan ? = 0,008 <0,05; Setidaknya, petugas lalu lintas memiliki 1.420 hingga 10.637 kali lebih tinggi untuk mendapat halangan jalan napas. Kesimpulan: Petugas yang bertugas di bidang pekerjaan lalu lintas memiliki kecenderungan terpapar emisi gas buang kendaraan bermotor di jalan raya, sehingga terdapat resiko peningkatan beratnya halangan jalan dibandingkan dengan pekerjaan lain. Untuk itu perlu adanya deteksi dini melalui pemeriksaan rutin dan peningkatan kapasitas Petugas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dalam upaya pencegahan beratnya gangguan jalan nafas melalui gerakan disiplin keselamatan kerja menggunakan masker. Hal ini penting karena adanya resiko terpapar polusi udara emisi gas buang di jalan raya.

Deteksi dini faktor risiko dan beratnya obstruksi jalan nafas melalui pengukuran nilai kritis FVC dan FEV 1 pada petugas terminal bus (Early detection of risk factors and severity of airway obstruction through measurement of critical values of FVC and FEV 1 on bus terminal officers)

Sitasi: Sudiro, S., Martono, M., Nursalam, N., & Efendi, F. (2019). Early Detection of Risk Factors and Severity of Airway Obstruction Through Measurement of Critical Values of FVC and FEV1 on Bus Terminal Officers. Indian Journal of Public Health Research & Development10(1), 642-646.

Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan sejauh mana nilai kritis FVC dan FEV1 mampu memprediksi faktor risiko beratnya obstruksi jalan napas pada petugas terminal bus di Solo Raya Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain survei deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah Petugas terminal bus di Solo Raya Indonesia yang bekerja di bidang lalu lintas, inspeksi kendaraan, dan parkir. Sampel terdiri dari 139 responden secara acak. Tingkat keparahan obstruksi jalan napas diukur melalui nilai kritis FVC dan FEV1 menggunakan Spirometri. Teknik analisis data penelitian menggunakan Uji Regresi Logistik dengan taraf signifikansi 95%. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi jenis kelamin pada sebagian besar laki-laki adalah 64,7%, kelompok umur 43-50 tahun 30,9%, masa kerja 21-30 tahun 38,8%, dan tingkat keparahan penyakit. obstruksi jalan nafas terbanyak pada kategori ringan sebesar 52,5%. Model pengukuran nilai kritis FVC dan FEV1 mampu memprediksi tingkat keseriusan obstruksi jalan nafas yang signifikan sebesar 80,7% dan petugas lalu lintas beresiko lebih tinggi terhadap gangguan jalan nafas secara signifikan sebesar 3,88 kali dibandingkan dengan mereka yang bekerja di tempat parkir, atau inspeksi kendaraan. ditunjukkan dengan ? = 0,008 <0,05; Setidaknya, petugas lalu lintas memiliki 1.420 hingga 10.637 kali lebih tinggi untuk mendapat halangan jalan napas. Kesimpulan: Petugas yang bertugas di bidang pekerjaan lalu lintas memiliki kecenderungan terpapar emisi gas buang kendaraan bermotor di jalan raya, sehingga terdapat resiko peningkatan beratnya halangan jalan dibandingkan dengan pekerjaan lain. Untuk itu perlu adanya deteksi dini melalui pemeriksaan rutin dan peningkatan kapasitas Petugas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dalam upaya pencegahan beratnya gangguan jalan nafas melalui gerakan disiplin keselamatan kerja menggunakan masker. Hal ini penting karena adanya resiko terpapar polusi udara emisi gas buang di jalan raya.

× How can I help you?