Research centre REACH

Prevalensi stunting pada anak usia 10 tahun di Indonesia (Prevalence of stunting among 10-year old children in Indonesia)

Sitasi: Taqwin, T., Ramadhan, K., Hadriani, H., Nasrul, N., Hafid, F., & Efendi, F. (2020). Prevalence of stunting among 10-year old children in indonesia. Journal of Global Pharma Technology, 12(2), 768-775. Retrieved from www.scopus.com

Anak-anak dikatakan sehat jika mereka tumbuh dan berkembang secara memadai. Ini ditentukan melalui pengukuran tinggi dan berat badan ideal yang sesuai dengan usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur prevalensi stunting pada anak usia 10 tahun. Penelitian observasional ini memiliki desain potong lintang. Penelitian deskriptif ini dilakukan pada bulan Oktober hingga November 2019 dengan menggunakan total sampel sebanyak 392 anak yang diperoleh melalui multistage proporsional sampling dengan memilih partisipan dari siswa di 19 sekolah dasar pertama di wilayah studi. Pengukuran antropometri tinggi dilakukan dengan menggunakan mikrotoice. Hasil pengukuran dibandingkan dengan standar AntroPlus 2007 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk anak usia 10 tahun. Tinggi badan diukur menggunakan metode standar dan tinggi badan untuk usia dan skor-z dihitung untuk menilai stunting. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan ANOVA. Prevalensi stunting pada anak usia 10 tahun di Sulawesi Tengah adalah 24,7%. Kabupaten Poso memiliki persentase tertinggi sekitar 35,9%, Kabupaten Donggala sekitar 35,7%, Kabupaten Sigi sekitar 16,5% dan Kota Palu sekitar 12,5%. Rata-rata tinggi badan tertinggi terdapat di Kota Palu sebesar 135,7 cm dan terendah di Kabupaten Donggala sebesar 129,9 cm. ANOVA menunjukkan nilai signifikan <0,001 dengan z-skor masing-masing -0,72, -1,63, -1,45 dan -1,09 di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Poso dan Sigi. Prevalensi stunting di Sulawesi Tengah pada anak usia 10 tahun adalah 24,7%. Kabupaten Donggala dan Poso memiliki prevalensi stunting tertinggi. Beberapa strategi perlu dilakukan untuk meningkatkan gizi anak sekolah dasar. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan kantin sekolah yang aman dan higienis, mempromosikan keragaman pangan yang sehat, mendorong lebih banyak konsumsi ikan dan bahan protein sehat lainnya.

× How can I help you?